Jangan Lewatkan I'tikaf. Iya itulah salah satu ibadah lain dari yang lain dan juga hanya ada dibulan ramadhan saja. Walaupun tidak setiap hari usahakan untuk beri'tikaf. Minimal sekali daripada nggak sama sekali. I'tikaf adalah salah satu sarana yang sangat mujarab untuk berkhalwat dengan Allah Swt. Dan sebagai usaha untuk menjemput malam lailatul qodar.
I'tikaf diakukan di sepuluh hari yang akhir. Jika kita nggak bisa setiap hari maka sangat disarankan di hari malam yang ganjil. Rasulullah Saw melakukan i'tikaf setiap hari selama sepuluh malam yang terakhir. Namun karena tidak diwajibkan maka tidak setiap hari tidak mengapa. tapi sangat bagus jika dilakukan setiap hari.
Apa yang dilakukan saat i'tikaf ? I'tikaf atau berdiam diri di masjid. Jadi kita melakukan diam diri di masjid, tapi bukan berarti diam tanpa berbuat apa-apa. Saat kita i'tikaf kita bisa melakukan sholat-sholat sunnah, dzikir, membaca al-Quran, berdo'a dan lain sebagainya. Tapi ingat kalau saat membaca Al-Quran jangan sampai mengganggu orang lain yang juga sedang dalam kondisi i'tikaf. Kita harus menghormati mereka untuk berkhalwat dengan Allah Swt juga.
Saat beri'tikaf usahakan jangan mengurusi urusan keduniaan lagi. Cukup pusatkan perhatian untuk berkhalwat dengan Allah Swt. Ramadhan tanpa i'tikaf sangatlah kurang lengkap. Ibarat minum sama minum air susu tanpa gula :d
Mari kita semua dalam ramadhan kali ini kita menyempatkan diri dengan beri'tikaf. InsyaAllah hati akan semakin tenang dengan i'tikaf.
LANJUT!
Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 13 September 2009
Minggu, 30 Agustus 2009
Aku dan Zuhud
Zuhud
Tiadanya (kedunian) tidak merisaukan hati, adanya tidak membutakan hati karena disisi Allah Swt adalah lebih baik dari segalanya.
Siapa Aku ?
Tatkala banyak orang mengetahui aibku, sebenarnya mereka hanyalah mengetahui sedikit sekali dari aibku. Dan bagi Allah tidaklah sulit untuk membuka seluruh aibku sehingga nampaklah betapa hinanya diriku.
Apa yang kau cari ?
Istri yang cantik, harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, rumah gedung bertingkat dan mungkin masih banyak lagi ?
Ketahuilah bahwa semua manusia tidak dapat mengelak dari kematian. Manusia tidak meminta di lahirkan, tak dapat pula menolak untuk dilahirkan di bumi ini. Dan terbatas pula kemampuan yang dimilikinya.
Artinya manusia itu lemah dan dikuasai oleh Dzat Yang Maha Kuasa, yaitu Allah Swt. Oleh karenanya manusia harus menerima ketentuan baginya, yaitu menjadi abdillah yang tugasnya beribadah kepada Allah Swt.
Maka carilah cara agar kamu bisa menjadi seorang abdillah yang sempurna.
LANJUT!
Tiadanya (kedunian) tidak merisaukan hati, adanya tidak membutakan hati karena disisi Allah Swt adalah lebih baik dari segalanya.
Siapa Aku ?
Tatkala banyak orang mengetahui aibku, sebenarnya mereka hanyalah mengetahui sedikit sekali dari aibku. Dan bagi Allah tidaklah sulit untuk membuka seluruh aibku sehingga nampaklah betapa hinanya diriku.
Apa yang kau cari ?
Istri yang cantik, harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, rumah gedung bertingkat dan mungkin masih banyak lagi ?
Ketahuilah bahwa semua manusia tidak dapat mengelak dari kematian. Manusia tidak meminta di lahirkan, tak dapat pula menolak untuk dilahirkan di bumi ini. Dan terbatas pula kemampuan yang dimilikinya.
Artinya manusia itu lemah dan dikuasai oleh Dzat Yang Maha Kuasa, yaitu Allah Swt. Oleh karenanya manusia harus menerima ketentuan baginya, yaitu menjadi abdillah yang tugasnya beribadah kepada Allah Swt.
Maka carilah cara agar kamu bisa menjadi seorang abdillah yang sempurna.
LANJUT!
Kamis, 27 Agustus 2009
Dekati atau Didekati : Pilih Keduanya !
Naluri manusia untuk mencari tempat yang aman yang menyelamatkan itu sudah ada sejak lahir, dalam arti selamat dari hal-hal yang sifatnya material. Anehnya tidak demikian terhadap hal-hal yang sifatnya spiritual.
Sedikit sekali ada manusia yang menjaga agar rohaninya agar selamat. Betapa banyak manusia yang tak dapat memilah mana yang benar dan mana yang salah untuk konsumsi jiwanya, kemampuan memfilternya sangat lemah. Padahal beredarnya informasi sangat cepat, karena banyak media masa dan elektronik yang mendukungnya.
Akal, pengetahuan dan lingkungan sangat mempengaruhi bagaimana ia mengkonsumsi dan mengolah informasi. Demikian juga keimanan seseorang , sangat berpengaruh. Oleh karena itu, keempat faktor ini tidak boleh tidak harus dijaga agar bisa selalu dekat dengan kebenaran. Bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Untuk menjaga keempat faktor itu, diperlukan syarat-syarat : cinta belajar, cinta beramal dan cinta mendekati orang sholih. Cinta disini tak sekadar dalam hati tapi dalam segala hal: pikiran, hati dan perbuatan.
Dan cara yang ampuh adalah dekati orang-orang sholih, belajarlah kepada mereka. Jadikan mereka cermin bagi kalian, jadikan anda elok sebagaimana mereka. Dimanapun berada berusahalah mendekati mereka, disekolah, di masyarakat, di tempat kerja. Carilah tempat komunitas orang-orang yang diridhloi Allah Swt. Bukankah anda ingin dekat dengan mereka saat disyurga nanti ?
Tidak lupa, Jadilah anda adalah orang yang akan didekati oleh orang-orang yang ingin selamat dunia akherat. Berusahalah anda menjadi orang sholih. Seorang muslim yang baik adalah seorang muslim yang orang-orang disekitarnya aman dari tangan dan mulutnya, yang aman dari kejahatannya.
Dekati orang-orang yang sholih, maka engkau akan didekati oleh orang-orang yang ingin dekat kepada Pencipta-Nya.
LANJUT!
Sedikit sekali ada manusia yang menjaga agar rohaninya agar selamat. Betapa banyak manusia yang tak dapat memilah mana yang benar dan mana yang salah untuk konsumsi jiwanya, kemampuan memfilternya sangat lemah. Padahal beredarnya informasi sangat cepat, karena banyak media masa dan elektronik yang mendukungnya.
Akal, pengetahuan dan lingkungan sangat mempengaruhi bagaimana ia mengkonsumsi dan mengolah informasi. Demikian juga keimanan seseorang , sangat berpengaruh. Oleh karena itu, keempat faktor ini tidak boleh tidak harus dijaga agar bisa selalu dekat dengan kebenaran. Bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Untuk menjaga keempat faktor itu, diperlukan syarat-syarat : cinta belajar, cinta beramal dan cinta mendekati orang sholih. Cinta disini tak sekadar dalam hati tapi dalam segala hal: pikiran, hati dan perbuatan.
Dan cara yang ampuh adalah dekati orang-orang sholih, belajarlah kepada mereka. Jadikan mereka cermin bagi kalian, jadikan anda elok sebagaimana mereka. Dimanapun berada berusahalah mendekati mereka, disekolah, di masyarakat, di tempat kerja. Carilah tempat komunitas orang-orang yang diridhloi Allah Swt. Bukankah anda ingin dekat dengan mereka saat disyurga nanti ?
Tidak lupa, Jadilah anda adalah orang yang akan didekati oleh orang-orang yang ingin selamat dunia akherat. Berusahalah anda menjadi orang sholih. Seorang muslim yang baik adalah seorang muslim yang orang-orang disekitarnya aman dari tangan dan mulutnya, yang aman dari kejahatannya.
Dekati orang-orang yang sholih, maka engkau akan didekati oleh orang-orang yang ingin dekat kepada Pencipta-Nya.
LANJUT!
Rabu, 26 Agustus 2009
Do'a : Jangan Terburu-buru
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. Ghaafir[40]:60)
Berdo'a adalah wajib. Dengan berdo'a, manusia bisa terlepas dari gelar kesombongan yang disandangnya. Dan Allah Swt pun akan mengabulkannya. Itu jaminan dari Pemilik alam semesta ini.
Tapi mengapa sudah banyak dan sering manusia berdo'a tapi tidak/belum dikabulakan jua ? Hingga manusiapun tak sedikit yang berputus asa. Akhirnya ibadahpun ditinggalkan karena keadaan ekonomi ataupun cita-cita keduniannya tidak/belum dikabulkan.
Ketahuilah, inilah kesalahan manusia. Mudah berputus asa, padahal orang yang berputus asa adalah teman syaiton. Anggapan yang salah juga, jika beribadah itu tujuannya agar kehidupan ekonomi dan cita-cita keduniannya terpenuhi dengan mudah. Sekali-kali tidak. Ibadah adalah kewajiban manusia, sunatullah atas diciptakan-Nya manusia dimuka bumi. Kehidupan ekonomi dan cita-cita keduniaan bahkan akherat hanya bisa diraih dengan usaha.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka" (QS. Ar Ra'd[13]:11).
Berdo'a itu dibutuhkan kesabaran. Do'a menjadi tidak terkabul tatkala kita telah mengeluh “Saya sudah berdo'a tetapi belum juga dikabulkan”, walau dalam hati. Butuh waktu untuk dikabulkannya. Tergantung seberapa dekat kita dengan Allah Swt. Buktinya para Nabi, Rasulullah, wali dan orang-orang yang dekat dengan Allah Swt begitu mudah do'anya dikabulkan. Tapi kalau kita, masih butuh waktu yang entah kitapun tidak mengetahuinya.
Apakah kita tidak bisa seperti mereka (Nabi, Rasulullah, wali ) ? Jawabnya, bisa. Karena kita juga sama-sama sebagai makhluk ciptaan-Nya. Syaratnya kita harus semakin mendekatkan kepada Allah Swt dengan melakukan amal-amal wajib disertai amal-amal sunnah. Dan juga tidak melewatkan waktu-waktu musatajab: setelah selesai sholat, diantara khutbah jum'at, saat teraniaya (dalam keadaan ini, yang teraniaya sangat dekat dengan Allah Swt), saat hujan lebat, dll.
Dan lagi, kita harus pandai memanajemen waktu. Kita harus pandai memperkirakan apa yang akan kita butuhkan dimasa datang. Untuk apa ? Untuk kita mintakan kepada Allah Swt, saat ini. Ingat kita ini banyak dosa, sering menjauh dari Allah, maka kita harus menabung do'a kita untuk masa depan kita termasuk untuk akherat kelak, mulai saat ini .
Kita harusnya tidak boleh jemu dalam berdo'a, karena memang salah kita sendiri tidak berusaha mendekat kepada Allah Swt. Kita tidak boleh terburu-buru dengan do'a kita.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : “Do'a seseorang akan dikabulkan oleh Allah selama dia tidak terburu-buru, sehingga ia mengatakan “Saya sudah berdo'a tetapi belum juga dikabulkan”” (HR.Bukhari).
Kita harus tulus ikhlas meminta/berdo'a kepada-Nya, memposisikan diri sebagai seorang peminta bukan memaksa-Nya. Dan sekali lagi, kita harus rajin menabung do'a, mulai saat ini !
LANJUT!
Berdo'a adalah wajib. Dengan berdo'a, manusia bisa terlepas dari gelar kesombongan yang disandangnya. Dan Allah Swt pun akan mengabulkannya. Itu jaminan dari Pemilik alam semesta ini.
Tapi mengapa sudah banyak dan sering manusia berdo'a tapi tidak/belum dikabulakan jua ? Hingga manusiapun tak sedikit yang berputus asa. Akhirnya ibadahpun ditinggalkan karena keadaan ekonomi ataupun cita-cita keduniannya tidak/belum dikabulkan.
Ketahuilah, inilah kesalahan manusia. Mudah berputus asa, padahal orang yang berputus asa adalah teman syaiton. Anggapan yang salah juga, jika beribadah itu tujuannya agar kehidupan ekonomi dan cita-cita keduniannya terpenuhi dengan mudah. Sekali-kali tidak. Ibadah adalah kewajiban manusia, sunatullah atas diciptakan-Nya manusia dimuka bumi. Kehidupan ekonomi dan cita-cita keduniaan bahkan akherat hanya bisa diraih dengan usaha.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka" (QS. Ar Ra'd[13]:11).
Berdo'a itu dibutuhkan kesabaran. Do'a menjadi tidak terkabul tatkala kita telah mengeluh “Saya sudah berdo'a tetapi belum juga dikabulkan”, walau dalam hati. Butuh waktu untuk dikabulkannya. Tergantung seberapa dekat kita dengan Allah Swt. Buktinya para Nabi, Rasulullah, wali dan orang-orang yang dekat dengan Allah Swt begitu mudah do'anya dikabulkan. Tapi kalau kita, masih butuh waktu yang entah kitapun tidak mengetahuinya.
Apakah kita tidak bisa seperti mereka (Nabi, Rasulullah, wali ) ? Jawabnya, bisa. Karena kita juga sama-sama sebagai makhluk ciptaan-Nya. Syaratnya kita harus semakin mendekatkan kepada Allah Swt dengan melakukan amal-amal wajib disertai amal-amal sunnah. Dan juga tidak melewatkan waktu-waktu musatajab: setelah selesai sholat, diantara khutbah jum'at, saat teraniaya (dalam keadaan ini, yang teraniaya sangat dekat dengan Allah Swt), saat hujan lebat, dll.
Dan lagi, kita harus pandai memanajemen waktu. Kita harus pandai memperkirakan apa yang akan kita butuhkan dimasa datang. Untuk apa ? Untuk kita mintakan kepada Allah Swt, saat ini. Ingat kita ini banyak dosa, sering menjauh dari Allah, maka kita harus menabung do'a kita untuk masa depan kita termasuk untuk akherat kelak, mulai saat ini .
Kita harusnya tidak boleh jemu dalam berdo'a, karena memang salah kita sendiri tidak berusaha mendekat kepada Allah Swt. Kita tidak boleh terburu-buru dengan do'a kita.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : “Do'a seseorang akan dikabulkan oleh Allah selama dia tidak terburu-buru, sehingga ia mengatakan “Saya sudah berdo'a tetapi belum juga dikabulkan”” (HR.Bukhari).
Kita harus tulus ikhlas meminta/berdo'a kepada-Nya, memposisikan diri sebagai seorang peminta bukan memaksa-Nya. Dan sekali lagi, kita harus rajin menabung do'a, mulai saat ini !
LANJUT!
Dakwah ala Rasulullah Saw
Orang yang paling berpengaruh didunia ini adalah Nabi Muhammad Saw. Benar bahwa dakwah yang dilakukan Rasulullah Saw adalah dakwah yang paling berhasil, bahkan hingga saat ini.
Sebagai seorang muslim tak akan merasakan nikmatnya addin ini secara sempurna tanpa disertai niat dan usaha untuk berdakwah. Rasulullah Saw telah berpesan “Sampaikan dariku walaupun satu ayat”.
"Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran[3]: 104)
Masalahnya tidak mudah untuk mendakwahi seseorang, dibutuhkan strategi dan metode yang tepat. Harus dimulai dari tahap-demi tahap. Rasulullah telah memberikan uswatun hasanah dalam berbagai hal, termasuk dakwah kepada seluruh umatnya.
Dakwahnya dimulai dari sendiri, keluarga, baru kepada khalayak ramai (masyarakat).
Berapa banyak orang menyeru orang lain tapi dia lupa menyeru dirinya sendiri dan lupa menyeru keluarganya sendiri ? Kalau tujuan dakwah itu adalah agar orang lain menjadi lebih baik, maka dia (juru dakwah) harus baik dulu. Dia harus memodelkan tujuan dakwah pada dirinya. Ini adalah wajib. Jangan memberi apa yang kamu tidak mempunyai. Jangan mengajar apa yang tidak kau ketahui.
Rasulullah menyeru orang untuk berkata jujur, karena beliau telah berbuat demikian bahkan beliau telah bergelar Al-Amin. Beliau menyerukan Al-Qur'an dan beliau telah memiliki akhlak Al-Qur'an sebagaimana yang dikatakan Aisyah r.a. Beliau telah menyeru kepada keluarganya dan juga seluruh umatnya. Bahkan seruannya “Seandainya Fatimah (putri Rasulullah Saw) mencuri, maka Aku (Rasulullah Saw) sendiri yang akan memotong tangannya”.
Kadang penyeru dakwah itu lupa akan tujuan sebenarnya berdakwah. Terlena oleh apa yang dilakukan, disibukan dengan berbagai kegiatan dakwah, sibuk memperbagus gaya berdakwah, sibuk menyusun kata-kata agar berkesan bagi objek dakwah tapi miskin amal, rohaninya sendiri tidak disirami dengan amal. Sibuk memikirkan orang lain lupa memikirikan diri sendiri. Na'udzubillahi mindzalik.
"Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka?." (QS. At-Tahrim[66]: 6)
Berdakwalah, tapi jangan lupa dakwahi dulu dirimu dan keluargamu !
LANJUT!
Sebagai seorang muslim tak akan merasakan nikmatnya addin ini secara sempurna tanpa disertai niat dan usaha untuk berdakwah. Rasulullah Saw telah berpesan “Sampaikan dariku walaupun satu ayat”.
"Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran[3]: 104)
Masalahnya tidak mudah untuk mendakwahi seseorang, dibutuhkan strategi dan metode yang tepat. Harus dimulai dari tahap-demi tahap. Rasulullah telah memberikan uswatun hasanah dalam berbagai hal, termasuk dakwah kepada seluruh umatnya.
Dakwahnya dimulai dari sendiri, keluarga, baru kepada khalayak ramai (masyarakat).
Berapa banyak orang menyeru orang lain tapi dia lupa menyeru dirinya sendiri dan lupa menyeru keluarganya sendiri ? Kalau tujuan dakwah itu adalah agar orang lain menjadi lebih baik, maka dia (juru dakwah) harus baik dulu. Dia harus memodelkan tujuan dakwah pada dirinya. Ini adalah wajib. Jangan memberi apa yang kamu tidak mempunyai. Jangan mengajar apa yang tidak kau ketahui.
Rasulullah menyeru orang untuk berkata jujur, karena beliau telah berbuat demikian bahkan beliau telah bergelar Al-Amin. Beliau menyerukan Al-Qur'an dan beliau telah memiliki akhlak Al-Qur'an sebagaimana yang dikatakan Aisyah r.a. Beliau telah menyeru kepada keluarganya dan juga seluruh umatnya. Bahkan seruannya “Seandainya Fatimah (putri Rasulullah Saw) mencuri, maka Aku (Rasulullah Saw) sendiri yang akan memotong tangannya”.
Kadang penyeru dakwah itu lupa akan tujuan sebenarnya berdakwah. Terlena oleh apa yang dilakukan, disibukan dengan berbagai kegiatan dakwah, sibuk memperbagus gaya berdakwah, sibuk menyusun kata-kata agar berkesan bagi objek dakwah tapi miskin amal, rohaninya sendiri tidak disirami dengan amal. Sibuk memikirkan orang lain lupa memikirikan diri sendiri. Na'udzubillahi mindzalik.
"Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka?." (QS. At-Tahrim[66]: 6)
Berdakwalah, tapi jangan lupa dakwahi dulu dirimu dan keluargamu !
LANJUT!
Senin, 24 Agustus 2009
Atas Nama Cinta
Cinta adalah rasa suka yang tidak sekadar suka. Yaitu suatu rasa yang mengharapakan apa yang di sukainya selalu dekat dengannya, selalu di ingatnya, dan sejalan dengannya. Efek dari adanya rasa cinta adalah kerelaan pengorbanan terhadap apa yang dicintainya. Maka berhati-hatilah dengan cinta!
Tidak salah memiliki rasa cinta karena rasa cinta adalah fitrah bagi manusia yang telah di kabarkan dalam Al-Qur'an.
Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.(QS.Ali Imran[3] : 14 )
Sejak didalam syurga Nabi Adam a.s telah di karuniakan rasa cinta terhadap wanita yaitu Ibu Hawa. Setelah diturunkan di bumi Nabi Adam a.s berpisah selama bertahun-tahun dan akhirnya dipertemukan lagi di bukit Jabal Rahmah dan rasa cinta diantara keduanya tidak pudar.
Begitu kuatnya rasa cinta, waktu dan ruang tidak dapat menyirnakannya. Tak sedikit orang yang nekat berbuat konyol hanya karena cinta. Bunuh diri karena cinta ditolak, bunuh diri karena cinta ditentang orang tua, berani kepada orang tua karena lebih membela orang yang dicintainya, dan masih banyak lagi. Jika cinta telah menguasai dirinya, apapun yang dilakukan karena atas nama cinta.
Dengan cinta manusia bisa mencapai derajat tinggi, dengan cinta manusia bisa menjadi manusia yang hina. Sungguh salah jika manusia tunduk dan ditundukkan oleh cinta. Manusia seharusnya dapat menguasai cinta. Artinya manusia akan dikuasai cinta jika dia berbuat segala sesuatu hanya karena atas nama cinta, tapi dia akan menguasai cinta jika dapat menempatkan cinta pada proporsi yang semestinya. Yaitu mampu menimbang dan menentukan prioritas kepada siapa rasa cintanya akan diberikan. Dan cinta yang tertinggi seharusnya hanyalah kepada Allah Swt. Dia-lah prioritas cinta manusia-manusia utama. Manusia-manusia yang bisa menguasai rasa cintanya.
Apa yang dilakukannya bukan karena atas nama cinta, tapi atas kesadaran tinggi bagaimana dia dapat memanfaatkan karunia Allah Swt yang berupa rasa cinta. Dia cinta kepada Allah bukan karena rasa cinta tanpa dasar, tapi karena dia sadar kemana dia harus menujukan rasa cintanya.
LANJUT!
Tidak salah memiliki rasa cinta karena rasa cinta adalah fitrah bagi manusia yang telah di kabarkan dalam Al-Qur'an.
Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.(QS.Ali Imran[3] : 14 )
Sejak didalam syurga Nabi Adam a.s telah di karuniakan rasa cinta terhadap wanita yaitu Ibu Hawa. Setelah diturunkan di bumi Nabi Adam a.s berpisah selama bertahun-tahun dan akhirnya dipertemukan lagi di bukit Jabal Rahmah dan rasa cinta diantara keduanya tidak pudar.
Begitu kuatnya rasa cinta, waktu dan ruang tidak dapat menyirnakannya. Tak sedikit orang yang nekat berbuat konyol hanya karena cinta. Bunuh diri karena cinta ditolak, bunuh diri karena cinta ditentang orang tua, berani kepada orang tua karena lebih membela orang yang dicintainya, dan masih banyak lagi. Jika cinta telah menguasai dirinya, apapun yang dilakukan karena atas nama cinta.
Dengan cinta manusia bisa mencapai derajat tinggi, dengan cinta manusia bisa menjadi manusia yang hina. Sungguh salah jika manusia tunduk dan ditundukkan oleh cinta. Manusia seharusnya dapat menguasai cinta. Artinya manusia akan dikuasai cinta jika dia berbuat segala sesuatu hanya karena atas nama cinta, tapi dia akan menguasai cinta jika dapat menempatkan cinta pada proporsi yang semestinya. Yaitu mampu menimbang dan menentukan prioritas kepada siapa rasa cintanya akan diberikan. Dan cinta yang tertinggi seharusnya hanyalah kepada Allah Swt. Dia-lah prioritas cinta manusia-manusia utama. Manusia-manusia yang bisa menguasai rasa cintanya.
Apa yang dilakukannya bukan karena atas nama cinta, tapi atas kesadaran tinggi bagaimana dia dapat memanfaatkan karunia Allah Swt yang berupa rasa cinta. Dia cinta kepada Allah bukan karena rasa cinta tanpa dasar, tapi karena dia sadar kemana dia harus menujukan rasa cintanya.
LANJUT!
Taqwa dan Tawakal
Jika Allah Swt memberikan pertolongan, makhluk mana yang dapat menggagalkannya ? Tidak ada. Allah Swt adalah Maha Kuasa atas segalanya. Dia lah yang seharusnya menjadi tempat bersandar dan meminta pertolongan jika manusia ingin selamat, bahagia dan menang.
Tidak sedikit manusia yang takut kalau tidak akan mendapatkan rejeki, takut miskin hingga waktunya pun dihabiskan untuk bekerja tp meninggalkan kewajibannya sebagai seorang abdillah. Dunia dan akherat adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Manusia perlu berihtiar untuk menjalani kehidupannya didunia dan juga harus beribadah untuk kepentingan akheratnya. Jangan sampai mengabaikan akherat dan jangan pula mengabaikan akherat. Rasulullah Saw telah mengajari kita untuk berdo'a untuk kebaikan dunia dan akherat (orang menyebutnya : doa sapu jagad), bukan hanya untuk kebaikan salah satunya saja. Sehingga sudah seharusnya manusia harus mengusahakan keduanya, karena kalau memiliki komitmen do'a tersebut (do'a sapu jagad), maka wajib pula untuk melakukan ihtiar nya. Do'a dan ihtiar tak dapat dipisahkan. Jikalau dunia dicari dan selanjutnya digunakan untuk mencari akherat maka sempurnalah ia.
Ketakutan akan rejeki itu memang dapat menimpa siapa saja, bahkan manusia bisa berubah 180 derajat karena gara-gara rejeki. Apakah semestinya demikian ?
Bagaimana kehidupan keluarga Ali bin Abi Thalib r.a ? Bukan keluarga kaya. Akan tetapi beliau mempunyai jaminan surga. Banyaknya kekayaan bukanlah jaminan surga, akan tetapi rahmat Allah Swt. Dan rahmat-Nya itu akan di Karuniakan kepada hamba-hamba yang di kehendaki-Nya. Maka mendekatlah kepada Nya.
Oleh karena itu tidak semestinya manusia takut akan rejeki, karena Allah Swt lah yang akan memenuhinya. Tidak semestinya manusia merasa tidak cukup akan rejeki yang Allah Swt berikan, padahal disisi Allah Swt sebenarnya rejeki yang demikian itu cukup baginya kalau dia bisa menggunakannya dengan baik. Memang sifat yang selalu merasa tidak cukup akan rejeki dari Allah Swt ini bisa mengurangi rasa syukur kita kepada Allah Swt.
Yang perlu ditakutkan adalah kalau kita tidak bisa bertaqwa dan bertawakal hanya kepada-Nya. Padahal siapa yang memiliki ketaqwaan dan tawakal kepada Allah Swt, Allah Swt akan memberikan jalan keluar dan mencukupkan (keperluan) baginya.
“....Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS At-Thalaaq[65]:2-3).
LANJUT!
Tidak sedikit manusia yang takut kalau tidak akan mendapatkan rejeki, takut miskin hingga waktunya pun dihabiskan untuk bekerja tp meninggalkan kewajibannya sebagai seorang abdillah. Dunia dan akherat adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Manusia perlu berihtiar untuk menjalani kehidupannya didunia dan juga harus beribadah untuk kepentingan akheratnya. Jangan sampai mengabaikan akherat dan jangan pula mengabaikan akherat. Rasulullah Saw telah mengajari kita untuk berdo'a untuk kebaikan dunia dan akherat (orang menyebutnya : doa sapu jagad), bukan hanya untuk kebaikan salah satunya saja. Sehingga sudah seharusnya manusia harus mengusahakan keduanya, karena kalau memiliki komitmen do'a tersebut (do'a sapu jagad), maka wajib pula untuk melakukan ihtiar nya. Do'a dan ihtiar tak dapat dipisahkan. Jikalau dunia dicari dan selanjutnya digunakan untuk mencari akherat maka sempurnalah ia.
Ketakutan akan rejeki itu memang dapat menimpa siapa saja, bahkan manusia bisa berubah 180 derajat karena gara-gara rejeki. Apakah semestinya demikian ?
Bagaimana kehidupan keluarga Ali bin Abi Thalib r.a ? Bukan keluarga kaya. Akan tetapi beliau mempunyai jaminan surga. Banyaknya kekayaan bukanlah jaminan surga, akan tetapi rahmat Allah Swt. Dan rahmat-Nya itu akan di Karuniakan kepada hamba-hamba yang di kehendaki-Nya. Maka mendekatlah kepada Nya.
Oleh karena itu tidak semestinya manusia takut akan rejeki, karena Allah Swt lah yang akan memenuhinya. Tidak semestinya manusia merasa tidak cukup akan rejeki yang Allah Swt berikan, padahal disisi Allah Swt sebenarnya rejeki yang demikian itu cukup baginya kalau dia bisa menggunakannya dengan baik. Memang sifat yang selalu merasa tidak cukup akan rejeki dari Allah Swt ini bisa mengurangi rasa syukur kita kepada Allah Swt.
Yang perlu ditakutkan adalah kalau kita tidak bisa bertaqwa dan bertawakal hanya kepada-Nya. Padahal siapa yang memiliki ketaqwaan dan tawakal kepada Allah Swt, Allah Swt akan memberikan jalan keluar dan mencukupkan (keperluan) baginya.
“....Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS At-Thalaaq[65]:2-3).
LANJUT!
Kamis, 20 Agustus 2009
Bergeraklah mengikuti petunjuk
Jantung berdetak memompa darah, selanjutnya darah akan beredar pada bagian-bagian tubuh dengan benar sesuai jalur yang ditentukan untuknya. Manusia akan hidup secara fisik selama jantung masih terus berdetak menjalankan fungsinya.
Apa yang terjadi jika jantung berhenti bergerak ? Tentu saja manusia akan mati. Bahkan ketika darah mengalir tidak pada tempatnya saja sudah membuat manusia sakit baik secara fisik, mental ataupun keduanya. Sering didapatkan berita orang yang mengalami pendarahan di otak karena kecelakaan secara umum akhirnya meninggal atau kalaupun sembuh secara fisik tidak dapat sembuh secara total bahkan bisa menyebabkan mental seseorang tidak sehat.
Darah akan menjalankan fungsinya secara optimal jika bergerak dan bergerak terus pada saluran yang telah ditentukan.
'Pergerakan' adalah sebuah pilihan yang harus dijalani tidak sekadar ditetapkan. Manusia harus 'bergerak istiqomah' agar memberikan manfaat yang optimal baik bagi dirinya sendiri maupun bagi kehidupan lain. Selama masih hidup produktivitas harus ada sebagai wujud 'pergerakan'. Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Apa jadinya jika kita berhenti di tengah jalan raya apalagi berhenti dengan tiba-tiba ketika orang lain tengah berusaha mengendarai kendaraan masing-masing ?
Bergerak adalah sebuah keharusan tetapi harus pada jalan yang benar, sehingga tidak membuat kerusakan diri sendiri maupun kehidupan yang lain. Jalan yang benar adalah jalan yang ditunjukkan Allah Swt melalui wahyu dan para Nabi dan Rasul-Nya. Dan jalan itu merupakan jalan yang mutlak untuk dilalui jika menginginkan kemanfaatan atas pergerakan itu, sebagaimana matahari yang bergerak terus melalui garis edar yang telah ditentukan baginya.
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. “ (QS. Yaasiin [36]: 38)
Allah Swt telah meniupkan ruh-Nya kepada manusia sehingga manusia bisa hidup. Dilengkapi pula manusia dengan akal agar ia bisa memilih jalan mana yang benar dan mana yang salah. Allah Swt telah menunjukkan jalan manusia melalaui kitab-kitab suci, para nabi dan rasul-Nya. Bagi muslim Allah Swt menurunkan Al-Qur'an. Dengan bekal akal dan pembeda (al-furqon) tersebut agar manusia mengetahui 'garis edar' mana yang harus di laluinya. Jika manusia berjalan diluar 'garis edar' maka 'kiamat' akan terjadi. Begitupula kiamat yang sesungguhnya hanya akan terjadi bila matahari terbit dari barat tidak sesuai garis edarnya yang telah ditetapkan.
“......Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.....(QS. Ar-Ra'd[13]:11)”
Maka berubahlah ! Bergerak, bergerak dan bergerak untuk perubahan, itulah ciri kehidupan. Keberuntungan hanya akan didapatkan oleh mereka yang bersedia berubah, hari ini lebih baik dari hari kemarin.
LANJUT!
Apa yang terjadi jika jantung berhenti bergerak ? Tentu saja manusia akan mati. Bahkan ketika darah mengalir tidak pada tempatnya saja sudah membuat manusia sakit baik secara fisik, mental ataupun keduanya. Sering didapatkan berita orang yang mengalami pendarahan di otak karena kecelakaan secara umum akhirnya meninggal atau kalaupun sembuh secara fisik tidak dapat sembuh secara total bahkan bisa menyebabkan mental seseorang tidak sehat.
Darah akan menjalankan fungsinya secara optimal jika bergerak dan bergerak terus pada saluran yang telah ditentukan.
'Pergerakan' adalah sebuah pilihan yang harus dijalani tidak sekadar ditetapkan. Manusia harus 'bergerak istiqomah' agar memberikan manfaat yang optimal baik bagi dirinya sendiri maupun bagi kehidupan lain. Selama masih hidup produktivitas harus ada sebagai wujud 'pergerakan'. Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Apa jadinya jika kita berhenti di tengah jalan raya apalagi berhenti dengan tiba-tiba ketika orang lain tengah berusaha mengendarai kendaraan masing-masing ?
Bergerak adalah sebuah keharusan tetapi harus pada jalan yang benar, sehingga tidak membuat kerusakan diri sendiri maupun kehidupan yang lain. Jalan yang benar adalah jalan yang ditunjukkan Allah Swt melalui wahyu dan para Nabi dan Rasul-Nya. Dan jalan itu merupakan jalan yang mutlak untuk dilalui jika menginginkan kemanfaatan atas pergerakan itu, sebagaimana matahari yang bergerak terus melalui garis edar yang telah ditentukan baginya.
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. “ (QS. Yaasiin [36]: 38)
Allah Swt telah meniupkan ruh-Nya kepada manusia sehingga manusia bisa hidup. Dilengkapi pula manusia dengan akal agar ia bisa memilih jalan mana yang benar dan mana yang salah. Allah Swt telah menunjukkan jalan manusia melalaui kitab-kitab suci, para nabi dan rasul-Nya. Bagi muslim Allah Swt menurunkan Al-Qur'an. Dengan bekal akal dan pembeda (al-furqon) tersebut agar manusia mengetahui 'garis edar' mana yang harus di laluinya. Jika manusia berjalan diluar 'garis edar' maka 'kiamat' akan terjadi. Begitupula kiamat yang sesungguhnya hanya akan terjadi bila matahari terbit dari barat tidak sesuai garis edarnya yang telah ditetapkan.
“......Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.....(QS. Ar-Ra'd[13]:11)”
Maka berubahlah ! Bergerak, bergerak dan bergerak untuk perubahan, itulah ciri kehidupan. Keberuntungan hanya akan didapatkan oleh mereka yang bersedia berubah, hari ini lebih baik dari hari kemarin.
LANJUT!
Niat : Nilai segala amal kita
Setelah dilahirkan, apakah selanjutnya manusia hanya untuk dimatikan ? Tetapi mengapa harus ada kematian di usia balita, anak-anak, remaja, dewasa, tua, bahkan masih didalam kandungan ? Mengapa mereka tidak dimatikan dalam usia yang sama semua ?
Kematian adalah sebuah kepastian yang harus dirasakan oleh setiap makhluk termasuk manusia, tetapi kebanyakan manusia sering terlena dengan kehidupan dunia karena tak mengetahui kapan kematian menjemputnya. Begitulah Allah Swt berkehendak dengan ke-Maha Kuasa-Nya, dengan Maha Adil-Nya untuk memberikan balasan yang sempurna pada setiap makhluknya.
Surga memang mahal harganya tak dapat dibeli dengan emas bergunung-gunung, bahkan dunia seisinya. Namun hanya dengan rahmat dari Allah Swt insan-insan mulia dapat mendiaminya. Insan-insan mulia tersebut adalah insan-insan yang benar-benar berusaha menunaikan kewajibannya didunia untuk beribadah kepada Allah Swt, bukan mereka yang selalu terlena atas kehidupan dunia hingga ajalnya.
Selama nyawa masih ada cita-cita harus ada yaitu cita-cita untuk menjadi abdillah yang sempurna. Mulai saat ini harus kita niatkan untuk mencapai cita-cita tersebut karena segala amal tergantung dengan niatnya, dan ia akan mendapatkan apa yang diniatkannya.
Manusia hidup dibumi adalah dalam sebuah perjalanan, perjalanan menuju akherat. Dalam perjalanannya, manusia hidup tidak lepas dari dua tujuan, dunia dan akherat. Barangsiapa yang tidak bersungguh-sungguh meraih dunia maka ia akan sengsara, barangsiapa tidak bersungguh-sungguh berusaha untuk akheratnya maka jangan memimpikan surga.
Sudah jelas tujuan kita. Tetapi kita sering lupa tujuan kita, sehingga setiap perbuatan/amal kita-pun sering bukan untuk tujuan akherat, tetapi sebatas dunia. Begitu hina.
Kita telah diajari untuk menyebut asma Allah tatkala memulai beramal/berbuat dan mengucapkan syukur kepada Allah tatkala selesai-nya. Kita diajari untuk selalu mengingat-Nya, sehingga setiap amal/perbuatan kita selalu ada niat karena-Nya.
LANJUT!
Kematian adalah sebuah kepastian yang harus dirasakan oleh setiap makhluk termasuk manusia, tetapi kebanyakan manusia sering terlena dengan kehidupan dunia karena tak mengetahui kapan kematian menjemputnya. Begitulah Allah Swt berkehendak dengan ke-Maha Kuasa-Nya, dengan Maha Adil-Nya untuk memberikan balasan yang sempurna pada setiap makhluknya.
Surga memang mahal harganya tak dapat dibeli dengan emas bergunung-gunung, bahkan dunia seisinya. Namun hanya dengan rahmat dari Allah Swt insan-insan mulia dapat mendiaminya. Insan-insan mulia tersebut adalah insan-insan yang benar-benar berusaha menunaikan kewajibannya didunia untuk beribadah kepada Allah Swt, bukan mereka yang selalu terlena atas kehidupan dunia hingga ajalnya.
Selama nyawa masih ada cita-cita harus ada yaitu cita-cita untuk menjadi abdillah yang sempurna. Mulai saat ini harus kita niatkan untuk mencapai cita-cita tersebut karena segala amal tergantung dengan niatnya, dan ia akan mendapatkan apa yang diniatkannya.
Manusia hidup dibumi adalah dalam sebuah perjalanan, perjalanan menuju akherat. Dalam perjalanannya, manusia hidup tidak lepas dari dua tujuan, dunia dan akherat. Barangsiapa yang tidak bersungguh-sungguh meraih dunia maka ia akan sengsara, barangsiapa tidak bersungguh-sungguh berusaha untuk akheratnya maka jangan memimpikan surga.
Sudah jelas tujuan kita. Tetapi kita sering lupa tujuan kita, sehingga setiap perbuatan/amal kita-pun sering bukan untuk tujuan akherat, tetapi sebatas dunia. Begitu hina.
Kita telah diajari untuk menyebut asma Allah tatkala memulai beramal/berbuat dan mengucapkan syukur kepada Allah tatkala selesai-nya. Kita diajari untuk selalu mengingat-Nya, sehingga setiap amal/perbuatan kita selalu ada niat karena-Nya.
LANJUT!
Rabu, 19 Agustus 2009
Islam : Addin yang benar dan wajib dibenarkan
Islam dibenci, Islam dimusuhi oleh mereka-mereka yang tidak mengetahui, tidak mengerti dan mereka yang dengki. Mereka benci karena belum mengetahui bahwa Islam itu benar. Mereka dengki karena Islam adalah benar.
Rasulullah Saw bersabda :
"Paman! Demi Allah, biarpun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku menghentikan kegiatan dan prinsip hidupku, aku tidak bakal menghentikannya, bahkan sampai mati sekalipun!"
Sekalipun tidak memungkinkan manusia melakukan (meletakan matahari dan bulan) keteguhan akidah Rasulullah tidak goyah. Rasulullah Saw melakukan dakwahnya bukan untuk meminta pembayaran kepada manusia atas dakwahnya. Demikianlah sikap yang benar tatkala telah mengetahui kebenaran yang tiada diragukan lagi.
Islam telah diridhai Allah Swt menjadi addin bagi manusia. Dimana Islam tidak bisa dipisahkan dengan al-Qur'an. Oleh karena itu setiap muslim wajib memahami dan menjalankan isi al-Qur'an.
Untuk menghapus sebersih-bersihnya akan keraguan manusia terhadap Islam kiranya kita perlu menelaah kebenaran al-Qur’an. Al-Qur'an itu sudah berumur ribuan tahun, tetapi kemurnian dan kebenarannya tetap terjaga. Bahkan semakin tersingkap bukti-bukti kebenarannya.
Pada kala diturunkan, belum ada peralatan dokter yang canggih, namun al-Qur'an telah dapat menjelaskan bagaimana proses kejadian manusia hingga lahir dibumi secara detail. Kala itu tidak ada alat kapal selam, tapi al-Qur'an telah menjelaskan bahwa didalam laut ada pemisah antara air tawar dan air asin. Kala itu tidak ada teropong yang super canggih, tapi al-Qur'an telah memberitakan peredaran matahari, bulan dan kejadian jagat raya ini. Dan semua isi al-Qur'an adalah benar semua. Bagaimana mungkin Islam yang telah diridhai sebagai addin ini salah, kecuali mereka yang tidak mengerti, mereka yang tidak mengetahui dan mereka yang dengki.
Sungguh kedengkian itu tidak akan menyelamatkan. Dan ketidakmengertian dan ketidaktahuan itu hanya akan membawa kebingungan. Oleh karena itu pegang erat al-Quran jadikan ia pedoman hidup. Benarkan Islam dengan mengamalkan al-Quran.
“... Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.....”(QS. Al-Maidah[5]:3)
LANJUT!
Rasulullah Saw bersabda :
"Paman! Demi Allah, biarpun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku menghentikan kegiatan dan prinsip hidupku, aku tidak bakal menghentikannya, bahkan sampai mati sekalipun!"
Sekalipun tidak memungkinkan manusia melakukan (meletakan matahari dan bulan) keteguhan akidah Rasulullah tidak goyah. Rasulullah Saw melakukan dakwahnya bukan untuk meminta pembayaran kepada manusia atas dakwahnya. Demikianlah sikap yang benar tatkala telah mengetahui kebenaran yang tiada diragukan lagi.
Islam telah diridhai Allah Swt menjadi addin bagi manusia. Dimana Islam tidak bisa dipisahkan dengan al-Qur'an. Oleh karena itu setiap muslim wajib memahami dan menjalankan isi al-Qur'an.
Untuk menghapus sebersih-bersihnya akan keraguan manusia terhadap Islam kiranya kita perlu menelaah kebenaran al-Qur’an. Al-Qur'an itu sudah berumur ribuan tahun, tetapi kemurnian dan kebenarannya tetap terjaga. Bahkan semakin tersingkap bukti-bukti kebenarannya.
Pada kala diturunkan, belum ada peralatan dokter yang canggih, namun al-Qur'an telah dapat menjelaskan bagaimana proses kejadian manusia hingga lahir dibumi secara detail. Kala itu tidak ada alat kapal selam, tapi al-Qur'an telah menjelaskan bahwa didalam laut ada pemisah antara air tawar dan air asin. Kala itu tidak ada teropong yang super canggih, tapi al-Qur'an telah memberitakan peredaran matahari, bulan dan kejadian jagat raya ini. Dan semua isi al-Qur'an adalah benar semua. Bagaimana mungkin Islam yang telah diridhai sebagai addin ini salah, kecuali mereka yang tidak mengerti, mereka yang tidak mengetahui dan mereka yang dengki.
Sungguh kedengkian itu tidak akan menyelamatkan. Dan ketidakmengertian dan ketidaktahuan itu hanya akan membawa kebingungan. Oleh karena itu pegang erat al-Quran jadikan ia pedoman hidup. Benarkan Islam dengan mengamalkan al-Quran.
“... Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.....”(QS. Al-Maidah[5]:3)
LANJUT!
Bertauhid: Memuliakan martabat manusia
Dimana ada komunitas manusia maka akan didapati adanya kepercayaan terhadap adanya makhluk ghaib. Bentuk nyata pengakuannya bermacam-macam: pemberian sesaji di punden, laut, pohon dan tempat lain yang oleh mereka dikeramatkan; penaburan bunga di perempatan jalan; mengeramatkan keris, tombak, pedang dan masih banyak lagi.
Bermacam alasan yang mendasari semua itu. Diantaranya, keinginan memenuhi kecenderungan hati untuk mencari keamanan, keselamatan dan kebahagiaan atau mungkin hanya sekadar taklid buta terhadap adat-istiadat yang dilakukan oleh leluhurnya. Mungkin juga karena tidak berdaya menolak adat-istiadat tersebut yang sudah diyakini oleh warga disekitarnya. Berangsur-angsurpun tak sekedar taklid tapi ikut meyakininya juga. Na'udzubillahi min dzalik.
Dibutuhkan keberanian. Itulah pilihan yang tepat untuk membersihkan akidah dari semuanya itu. Bisa jadi karena penolakannya ia akan dikucilkan bahkan dimusuhi oleh mereka yang telah meyakininya. Tetapi inilah kemuliaan yang memang harus dibayar mahal. Hasbiyallah, cukuplah Allah bagiku.
Ketahuilah bahwa manusia harus menjadi makhluk yang lebih mulia daripada makhluk lain, inilah misi hidup manusia. Kemuliaan itu akan sempurna jikalau ia telah sempurna menjadi seorang abdillah -- hamba Allah Swt. Seorang hamba yang tiada menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Iblis diperintahkan bersujud kepada Nabi Adam itu adalah bukti kemuliaan manusia.
Pemberian sesaji ataupun perbuatan mengeramatkan benda (makhluk) adalah wujud dari penyembahan kepada makhluk ciptaan Allah Swt. Perbuatan itu adalah pengakuan bahwa ada makhluk ghaib yang lebih kuat dan lebih sempurna dari dirinya -- yang menguasai dirinya. Secara tidak sadar ia mengakui lebih hina dari makhluk selain dari jenisnya.
Ketahuilah bahwa manusia adalah lebih mulia daripada makhluk lain. Bahkan lebih mulia daripada malaikat, dengan syarat beriman dan menyempurnakan tugasnya untuk sebagai seorang hamba Allah Swt.
Allah Swt adalah satu-satunya yang berhak disembah, tempat bergantung segala sesuatu. Kepada-Nya lah tempat mengadu dan meminta pertolongan. Dia-lah yang mampu memberikan keamanan, kebahagiaan, keselamatan dan apapun yang manusia butuhkan. Percayalah kepada-Nya, penuhilah sunatullah menjadi makhluk yang lebih mulia.
LANJUT!
Bermacam alasan yang mendasari semua itu. Diantaranya, keinginan memenuhi kecenderungan hati untuk mencari keamanan, keselamatan dan kebahagiaan atau mungkin hanya sekadar taklid buta terhadap adat-istiadat yang dilakukan oleh leluhurnya. Mungkin juga karena tidak berdaya menolak adat-istiadat tersebut yang sudah diyakini oleh warga disekitarnya. Berangsur-angsurpun tak sekedar taklid tapi ikut meyakininya juga. Na'udzubillahi min dzalik.
Dibutuhkan keberanian. Itulah pilihan yang tepat untuk membersihkan akidah dari semuanya itu. Bisa jadi karena penolakannya ia akan dikucilkan bahkan dimusuhi oleh mereka yang telah meyakininya. Tetapi inilah kemuliaan yang memang harus dibayar mahal. Hasbiyallah, cukuplah Allah bagiku.
Ketahuilah bahwa manusia harus menjadi makhluk yang lebih mulia daripada makhluk lain, inilah misi hidup manusia. Kemuliaan itu akan sempurna jikalau ia telah sempurna menjadi seorang abdillah -- hamba Allah Swt. Seorang hamba yang tiada menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Iblis diperintahkan bersujud kepada Nabi Adam itu adalah bukti kemuliaan manusia.
Pemberian sesaji ataupun perbuatan mengeramatkan benda (makhluk) adalah wujud dari penyembahan kepada makhluk ciptaan Allah Swt. Perbuatan itu adalah pengakuan bahwa ada makhluk ghaib yang lebih kuat dan lebih sempurna dari dirinya -- yang menguasai dirinya. Secara tidak sadar ia mengakui lebih hina dari makhluk selain dari jenisnya.
Ketahuilah bahwa manusia adalah lebih mulia daripada makhluk lain. Bahkan lebih mulia daripada malaikat, dengan syarat beriman dan menyempurnakan tugasnya untuk sebagai seorang hamba Allah Swt.
Allah Swt adalah satu-satunya yang berhak disembah, tempat bergantung segala sesuatu. Kepada-Nya lah tempat mengadu dan meminta pertolongan. Dia-lah yang mampu memberikan keamanan, kebahagiaan, keselamatan dan apapun yang manusia butuhkan. Percayalah kepada-Nya, penuhilah sunatullah menjadi makhluk yang lebih mulia.
LANJUT!
Langganan:
Postingan (Atom)