AYAT 7
“Dan untuk (memenuhi Perintah) ” Tuhan-mu, bersabarlah !”
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Ini adalah pesan yang disebutkan berulang-ulang setiap kali memberikan tugas dakwah atau memantapkannya. Dan kesabaran merupakan bekal pokok didalam perjuangan yang berat ini. Perjuangan dakwah ke jalan Allah.
Tafsir Ibnu Katsir. Firman Firman Allah Ta’ala, “ Dan kepada Tuhanmu, bersabarlah.” Maksudnya, jadikanlah kesabaranmu menerima cercaan mereka itu karena mengharapkan keridhloan Allah semata.
Tafsir al-Mishbah. Ayat ini menekankan kesabaran secara khusus, yaitu kesabaran dalam menghadapi gangguan-gangguan mereka yang tidak mempercayai ajaran agama yang dibawakan oleh Rasulullah Saw. Namun penulis tafsir ini cenderung bahwa perintah
bersabar ini bermakna dalam arti yang luas. Sebagaimana perintah bersabar dalam al-Qur’an ditemukan dalam berbagai konteks antara lain :
a. Menanti ketetapan Allah. QS Yunus :109
b. Menanti datangnya janji Allah atau hari kemenangan. QS ar-Rum:60.
c. Menghadapi ejekan dan gangguan orang-orang yang tidak percaya. QS Thaha:130
d. Menghadapi dorongan nafsu untuk melakukan pembalasan yang tidak setimpal. QS an-Nahl : 127
e. Melaksanakan Ibadah. QS Maryam : 65
f. Menghadapi malapetaka. QS Luqman : 17
g. Memperoleh apa-apa yang diinginkan. QS al-Baqarah :153
DAFTAR PUSTAKA
Depag RI. 2005. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung : CV. Diponegoro
Departemen Dakwah DPP Hidayatullah. 2005. Panduan Dakwah, Menyemai Generasi Qur’ani Merujuk Tahapan Turunnya al-Qur’an.
Hidayatulah
Thohari, Hamim dkk. 2001. Panduan Berislam, Paket Dakwah. DPP Hidayatullah
Shihab, M. Quraish. 2003. Tafsir al-Mishbah, Volume 14. Jakarta : Lentera Hati
Ar-Rifa’I, M. Nasib. 2000. Terjemah Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtisari Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 4. Jakarta : Gema Insani
Quthb, Sayyid. 1992. Terjemah Fi Zhilalil Qur’an. Jakarta : Gema Insani
LANJUT!
Tampilkan postingan dengan label tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tafsir. Tampilkan semua postingan
Senin, 17 Agustus 2009
Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 6
AYAT 6
“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Rasulullah Saw diarahkan untuk melupakan dirinya dan tidak mengungkit-ungkit usaha dan perjuangan yang telah dilakukan atau menganggapnya banyak dan besar karena semua itu adalah karunia dari Allah Swt. Sehingga agar tidak
mengungkit-ungkit agar tetap selalu bersyukur kepada Allah.
Tafsir Ibnu Katsir. Yaitu, janganlah kamu memberikan sumbangan, sedangkan dibalik itu kamu mengharapkan balasan yang lebih banyak.
Tafsir al-Mishbah. Jangan menganggap usahamu (berdakwah) sebagai anugerah kepada manusia, karena dengan demikian engkau akan memperoleh yang banyak. Perolehan yang banyak bukan bersumber dari manusia, tetapi berupa ganjaran dari Allah. Konsekuensi
dari larangan ini adalah bahwa Rasulullah Saw tidak dibenarkan menuntut upah dari usaha-usaha beliau dalam berdakwah.
Sehingga ayat ini meletakan tanggung jawab diatas pundak Rasulullah Saw guna menyampaikan dakwahnya tanpa pamrih atau tidak menuntut suatu imbalan duniawi. Hal tersebut sejalan dengan surat al-Furqan ayat 57, “Aku tidak meminta kepada kamu atasnya sedikitpun upah, kecuali siapa yang mau kepada Tuhannya mengambil jalan”
Tafsir al-Qurthubi. Menafsirkan ayat tersebut dalam berbagai pendapat :
a. Dan janganlah kamu memberi untuk mengambil lebih banyak harta.
b. Dan janganlah kamu mengerjakan kebaikan agar dilihat manusia.
c. Dan jangan kamu mengerjakan ketaatan untuk mencari upahnya, tetapi sabarlah hingga Allah yang memeberi pahalanya.
d. Janganlah kamu katakan : Aku telah berdakwah tetapi dia tidak menyambutku.
e. Jangan kamu membesarkan amalmu dalam pandanganmu untuk meminta balasan lebih banyak dari kebaikan. Sesungguhnya hal itu merupakan kenikmatan Allah.
LANJUT!
“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Rasulullah Saw diarahkan untuk melupakan dirinya dan tidak mengungkit-ungkit usaha dan perjuangan yang telah dilakukan atau menganggapnya banyak dan besar karena semua itu adalah karunia dari Allah Swt. Sehingga agar tidak
mengungkit-ungkit agar tetap selalu bersyukur kepada Allah.
Tafsir Ibnu Katsir. Yaitu, janganlah kamu memberikan sumbangan, sedangkan dibalik itu kamu mengharapkan balasan yang lebih banyak.
Tafsir al-Mishbah. Jangan menganggap usahamu (berdakwah) sebagai anugerah kepada manusia, karena dengan demikian engkau akan memperoleh yang banyak. Perolehan yang banyak bukan bersumber dari manusia, tetapi berupa ganjaran dari Allah. Konsekuensi
dari larangan ini adalah bahwa Rasulullah Saw tidak dibenarkan menuntut upah dari usaha-usaha beliau dalam berdakwah.
Sehingga ayat ini meletakan tanggung jawab diatas pundak Rasulullah Saw guna menyampaikan dakwahnya tanpa pamrih atau tidak menuntut suatu imbalan duniawi. Hal tersebut sejalan dengan surat al-Furqan ayat 57, “Aku tidak meminta kepada kamu atasnya sedikitpun upah, kecuali siapa yang mau kepada Tuhannya mengambil jalan”
Tafsir al-Qurthubi. Menafsirkan ayat tersebut dalam berbagai pendapat :
a. Dan janganlah kamu memberi untuk mengambil lebih banyak harta.
b. Dan janganlah kamu mengerjakan kebaikan agar dilihat manusia.
c. Dan jangan kamu mengerjakan ketaatan untuk mencari upahnya, tetapi sabarlah hingga Allah yang memeberi pahalanya.
d. Janganlah kamu katakan : Aku telah berdakwah tetapi dia tidak menyambutku.
e. Jangan kamu membesarkan amalmu dalam pandanganmu untuk meminta balasan lebih banyak dari kebaikan. Sesungguhnya hal itu merupakan kenikmatan Allah.
LANJUT!
Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 5
AYAT 5
“Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanah !”
Tafsir Ibnu Katsir. “Dan perbuatan dosa tingalkanlah.” Yaitu tinggalkan perbuatan maksiat. Walaupun begitu, hal ini tidak menunjukkan bahwa sebelumnya nabi Saw selalu mengerjakan kemaksiatan. Hal ini senada dengan firman Allah Swt, “ Wahai Nabi,
Takwalah kamu kepada Allah dan janganlah kamu menaati orang-orang kafir dan munafik.”
Allah ta’ala berfirman, “ Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” Yaitu, janganlah kamu memberikan sumbangan, sedangkan dibalik itu kamu mengharapkan balasan yang lebih banyak. Penafsiran ini dikatakan oleh Ibnu Abbas dan beberapa orang tabi’in.
Tafsir al-Mishbah. Kata ar-rujz memiliki arti jamak yaitu berhala, siksa dan dosa. Namun penulis tafsir tersebut lebih cenderung mengarikannya dengan makna berhala, sehingga menafsirkan ayat ini dengan arti “dan dosa yakni menyembah berhala betapapun hebat atau banyaknya orang yang menyembahnya maka tinggalkanlah !” Hal tersebut dikaitkan dengan surat al-Hajj ayat 30, fa ijtanibuu ar-rijsa min al-autsaan (maka hindarilah berhala-berhala yang najis).
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Rasulullah Saw diarahkan untuk meninggalkan kemusyrikan dan segala sesuatu yang dapat mendatangkan azab. Selain itu ayat ini juga memberikan garis pemisah dan menyatakan keberbedaan yang tak kenal damai dan kompromi antara
Islam dan Jahiliyah.
LANJUT!
“Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanah !”
Tafsir Ibnu Katsir. “Dan perbuatan dosa tingalkanlah.” Yaitu tinggalkan perbuatan maksiat. Walaupun begitu, hal ini tidak menunjukkan bahwa sebelumnya nabi Saw selalu mengerjakan kemaksiatan. Hal ini senada dengan firman Allah Swt, “ Wahai Nabi,
Takwalah kamu kepada Allah dan janganlah kamu menaati orang-orang kafir dan munafik.”
Allah ta’ala berfirman, “ Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” Yaitu, janganlah kamu memberikan sumbangan, sedangkan dibalik itu kamu mengharapkan balasan yang lebih banyak. Penafsiran ini dikatakan oleh Ibnu Abbas dan beberapa orang tabi’in.
Tafsir al-Mishbah. Kata ar-rujz memiliki arti jamak yaitu berhala, siksa dan dosa. Namun penulis tafsir tersebut lebih cenderung mengarikannya dengan makna berhala, sehingga menafsirkan ayat ini dengan arti “dan dosa yakni menyembah berhala betapapun hebat atau banyaknya orang yang menyembahnya maka tinggalkanlah !” Hal tersebut dikaitkan dengan surat al-Hajj ayat 30, fa ijtanibuu ar-rijsa min al-autsaan (maka hindarilah berhala-berhala yang najis).
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Rasulullah Saw diarahkan untuk meninggalkan kemusyrikan dan segala sesuatu yang dapat mendatangkan azab. Selain itu ayat ini juga memberikan garis pemisah dan menyatakan keberbedaan yang tak kenal damai dan kompromi antara
Islam dan Jahiliyah.
LANJUT!
Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 4
AYAT 4
“Dan pakaianmu bersihkanlah !”
Tafsir Ibnu Katsir. Ada yang mengatakan, bersihkanlah dari dosa dan kemaksiatan. Ada juga yang mengatakan, yang dimaksud adalah membersihkan kalbu. Diakatakan pula, cucilah pakaianmu dengan air, karena orang-orang musyrik itu dahulu tidak pernah bersuci, maka Allah memerintahkan beliau untuk bersuci dan membersihkan pakaiannya. Pendapat inilah yang menjadi pegangan ibnu Jarir. Namun, ayat ini mencakup semua penafsiran diatas, karena orang-orang Arab sering mengatakan hati dengan pakaian.
Tafsir Jalalain. “Dan pakaianmu sucikanlah dari najis”
Tafsir al-Qurthubi. Dalam menafsirkan ayat tersebut terdapat dalam delapan pendapat. Hal itu dikaitkan dengan maksud makna tsiyab yaitu amal, hati, nafs, jasad, keluarga, akhlak, addiin, dan pakaian zahir. Dalam buku “Panduan Berislam : Buku 4.
Paket Dakwah” yang diterbitkan DPP Hidayatullah pada tahun 2001 di halaman 54 disebtkan makna ta’wil ayat tersebut berdasar pengertian tsiyab adalah :
a. Dan amalmu perbaikilah (pendapat Mujahid dan Ibnu Zaid).
b. Dan hatimu sucikanlah. Mawardi berkata, suci dari dosa dan maksiat serta khianat.
c. Dan nafs(jiwa)-mu sucikanlah, yaitu dari dosa.
d. Dan jasadmu sucikanlah, yaitu dari beberapa maksiat zahir.
e. Dan keluargamu sucikanlah dari berbagai kesalahan dengan nasihat dan pendidikan. Dikaitkan dengan surat al-Baqarah
ayat 187.
f. Dan akhlakmu bguskanlah (pendapat al-Hasan dan al-Kurdzi).
g. Dan agamamu sucikanlah.
h. Dan pakaian zahirmu sucikanlah, yaitu dari najis dan perbuatan haram.
Disebutkan pula dalam buku “Panduan Dakwah: Menyemai Generasi Qur’ani Merujuk Tahapan Turunnya al-Qur’an” yang diterbitkan oleh Departemen Dakwah DPP Hidayatullah 2005, bahwa bersih dalam hal kebersihan diri, kebersihan harta, kebersihan moral, dan kebersihan jabatan.
Tafsir al-Mishbah. Penulis tafsir tersebut memilih dalam mengartikan kata tsiyab dan thahir kedalam bentuk hakiki yaitu memebersihakan pakaian dari segala macam kotoran, dan tidak mengenakannya kecuali apabila ia bersih sehingga nyaman dipakai dan dipandang. Hal tersebut didukung dari sabab nuzul ayat ini yang menjelaskan bahwa ketika turunnya, Rasulullah Saw yang ketakutan melihat Jibril bertekuk lutut dan terjatuh ketanah sehingga tentu mengakibatkan kotornya pakaian beliau.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Kebersihan ini merupakan kata kiasan yang biasa dipakai orang Arab dengan maksud kebersihan hati, akhlak, dan mala perbuatan. Kebersihan dan kesucian ini termasuk pakaian dan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya.
Kebersihan dan kesucian adalah keadaan yang sangat cocok untuk menerima kehadiran makhluk tertinggi, sebagaimana kesucian ini merupakan sesuatu yang paling lekat dengan risalah ini.
LANJUT!
“Dan pakaianmu bersihkanlah !”
Tafsir Ibnu Katsir. Ada yang mengatakan, bersihkanlah dari dosa dan kemaksiatan. Ada juga yang mengatakan, yang dimaksud adalah membersihkan kalbu. Diakatakan pula, cucilah pakaianmu dengan air, karena orang-orang musyrik itu dahulu tidak pernah bersuci, maka Allah memerintahkan beliau untuk bersuci dan membersihkan pakaiannya. Pendapat inilah yang menjadi pegangan ibnu Jarir. Namun, ayat ini mencakup semua penafsiran diatas, karena orang-orang Arab sering mengatakan hati dengan pakaian.
Tafsir Jalalain. “Dan pakaianmu sucikanlah dari najis”
Tafsir al-Qurthubi. Dalam menafsirkan ayat tersebut terdapat dalam delapan pendapat. Hal itu dikaitkan dengan maksud makna tsiyab yaitu amal, hati, nafs, jasad, keluarga, akhlak, addiin, dan pakaian zahir. Dalam buku “Panduan Berislam : Buku 4.
Paket Dakwah” yang diterbitkan DPP Hidayatullah pada tahun 2001 di halaman 54 disebtkan makna ta’wil ayat tersebut berdasar pengertian tsiyab adalah :
a. Dan amalmu perbaikilah (pendapat Mujahid dan Ibnu Zaid).
b. Dan hatimu sucikanlah. Mawardi berkata, suci dari dosa dan maksiat serta khianat.
c. Dan nafs(jiwa)-mu sucikanlah, yaitu dari dosa.
d. Dan jasadmu sucikanlah, yaitu dari beberapa maksiat zahir.
e. Dan keluargamu sucikanlah dari berbagai kesalahan dengan nasihat dan pendidikan. Dikaitkan dengan surat al-Baqarah
ayat 187.
f. Dan akhlakmu bguskanlah (pendapat al-Hasan dan al-Kurdzi).
g. Dan agamamu sucikanlah.
h. Dan pakaian zahirmu sucikanlah, yaitu dari najis dan perbuatan haram.
Disebutkan pula dalam buku “Panduan Dakwah: Menyemai Generasi Qur’ani Merujuk Tahapan Turunnya al-Qur’an” yang diterbitkan oleh Departemen Dakwah DPP Hidayatullah 2005, bahwa bersih dalam hal kebersihan diri, kebersihan harta, kebersihan moral, dan kebersihan jabatan.
Tafsir al-Mishbah. Penulis tafsir tersebut memilih dalam mengartikan kata tsiyab dan thahir kedalam bentuk hakiki yaitu memebersihakan pakaian dari segala macam kotoran, dan tidak mengenakannya kecuali apabila ia bersih sehingga nyaman dipakai dan dipandang. Hal tersebut didukung dari sabab nuzul ayat ini yang menjelaskan bahwa ketika turunnya, Rasulullah Saw yang ketakutan melihat Jibril bertekuk lutut dan terjatuh ketanah sehingga tentu mengakibatkan kotornya pakaian beliau.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Kebersihan ini merupakan kata kiasan yang biasa dipakai orang Arab dengan maksud kebersihan hati, akhlak, dan mala perbuatan. Kebersihan dan kesucian ini termasuk pakaian dan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya.
Kebersihan dan kesucian adalah keadaan yang sangat cocok untuk menerima kehadiran makhluk tertinggi, sebagaimana kesucian ini merupakan sesuatu yang paling lekat dengan risalah ini.
LANJUT!
Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 3
AYAT 3
“Dan Tuhanmu agungkanlah !”
Menurut Tafsir al-Mishbah. Karena memberi peringatan dapat mengakibatkan kebencian dan gangguan dari yang diperingati, maka ayat diatas melanjutkan bahwa dan bersamaan dengan itu hanya Tuhan Pemelihara dan Pendidikmu saja – apapun yang terjadi maka agungkanlah !
Mengagungkan Tuhan dapat berbentuk ucapan, perbuatan dan sikap batin. Takbir dengan ucapan adalah mengucapkan Allahu Akbar.
Takbir dengan sikap batin adalah meyakini bahwa Dia Maha Besar, kepada-Nya tunduk segala makhluk dan kepada-Nya kembali keputusan segala sesuatu. Takbir dengan perbuatan adalah pengejawantahan makna-makna yang dikandung “takbir dengan sikap batin” tersebut kedalam kehidupan sehari-hari.
Ketika seseorang bertakbir, maka pada hakikatnya ada dua hal yang seharusnya ia capai. Pertama, pernyataan yang keluar menyangkut sikap batinnya tersebut. Kedua, mengatur sikap lahirnya sehingga setiap langkahnya berada dalam kerangka makna kalimat tersebut.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Hanya mengagungkan Tuhan karena selainnya adalah kecil. Setiap orang, setiap sesuatu, setiap nilai dan setiap hakikat adalah kecil dan hanya Allah sendiri Yang Maha Agung. Ini adalah pengarahan kepada Rasulullah Saw yang akan menghadapi tugas memberi peringatan kepada manusia, sebuah tugas yang sangat besar dan amat berat. Dengan tashawur yang seperti itu maka terasa kecil segala tipu daya, segala kekuatan, dan segala hambatan. Hanya Allah yang Maha Agung.
LANJUT!
“Dan Tuhanmu agungkanlah !”
Menurut Tafsir al-Mishbah. Karena memberi peringatan dapat mengakibatkan kebencian dan gangguan dari yang diperingati, maka ayat diatas melanjutkan bahwa dan bersamaan dengan itu hanya Tuhan Pemelihara dan Pendidikmu saja – apapun yang terjadi maka agungkanlah !
Mengagungkan Tuhan dapat berbentuk ucapan, perbuatan dan sikap batin. Takbir dengan ucapan adalah mengucapkan Allahu Akbar.
Takbir dengan sikap batin adalah meyakini bahwa Dia Maha Besar, kepada-Nya tunduk segala makhluk dan kepada-Nya kembali keputusan segala sesuatu. Takbir dengan perbuatan adalah pengejawantahan makna-makna yang dikandung “takbir dengan sikap batin” tersebut kedalam kehidupan sehari-hari.
Ketika seseorang bertakbir, maka pada hakikatnya ada dua hal yang seharusnya ia capai. Pertama, pernyataan yang keluar menyangkut sikap batinnya tersebut. Kedua, mengatur sikap lahirnya sehingga setiap langkahnya berada dalam kerangka makna kalimat tersebut.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Hanya mengagungkan Tuhan karena selainnya adalah kecil. Setiap orang, setiap sesuatu, setiap nilai dan setiap hakikat adalah kecil dan hanya Allah sendiri Yang Maha Agung. Ini adalah pengarahan kepada Rasulullah Saw yang akan menghadapi tugas memberi peringatan kepada manusia, sebuah tugas yang sangat besar dan amat berat. Dengan tashawur yang seperti itu maka terasa kecil segala tipu daya, segala kekuatan, dan segala hambatan. Hanya Allah yang Maha Agung.
LANJUT!
Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 2
AYAT 2
“Bangunlah, lalu berilah peringatan !”
Secara lughowi qum adalah fiil amar (kata perintah) yang berasal dari akar kata qawama yang berarti bangun, atau bermakna melaksanakan sesuatu secara sempurna dalam berbagi segi. Kemudian andzara berarti : janji, awal sesuatu, penyampaian yang
mengandung unsur menakut-nakuti. Dalam kitab al-Qur’an dan terjemahnya terbitan Departemen Agama Indonesia ayat tersebut diatas diartikan : bangunlah, lalu beri peringatan !
Tafsir Jalalain menanfsirkannya : Takut-takutilah penduduk Makkah dengan neraka, jika mereka tidak beriman.
Tafsir al-Qurthubi menanfsirkannya sebagai berikut :
a) Takut-takutilah penduduk Makkah dan peringatkanlah mereka dengan azab, jika tidak berislam.
b) Umumkan nubuwah risalah, karena sesungguhnya itu merupakan mukaddimahnya.
c) Serulah mereka untuk bertuhid, karena itulah tujuan dakwah.
Tafsir Ibnu Kastir. “Bangunlah, lalu berilah peringatan.” Yaitu, berikanlah peringatan kepada manusia. Dengat ayat ini
jadilah ia seorang rasul, sebagaimana dengan ayat pertama menjadikannya seorang nabi. Penafsirkannya sebagai berikut :
a) Bersiaplah dan peringatkanlah manusia, dan dengan ini misi kerasulan sampai sejak awal nubuwwah.
b) Takut-takutilah penduduk Makkah dengan neraka, jika mereka tidak beriman.
Menurut Tafsir al-Mishbah. Memerintahkan Nabi Muhammad Saw bangkitlah secara bersungguh-sungguh dan dengan penuh semangat
lalu berilah peringatan. Kata qum terambil dari kata qawama yang mempunyaibanyak bentuk. Secara umum, kata-kata yang dibentuk
dari akar kata tersebut diartikan sebagai “melaksanakan sesuatu secara sempurna dalam berbagai seginya.” Karena itu, perintah tersebut menuntut kebangkitan yang sempurna, penuh semangat dan percaya diri, sehingga yang diseru –dalam hal ini adalah Nabi Muhammad Saw- harus membuka selimut, menyingsingkan lengan baju untuk berjuang menghadapi kaum musyrikin.
Kata andzir berasala dari kata nadzara yang mempunyai banyak arti, antara lain sedikit, awal sesuatu dan janji untuk melaksanakan sesuatu bila terpenuhi syaratnya. Pada ayat ini biasa diterjemahkan dengan peringatkanlah. Peringatan
didefinisikan sebagai penyampaian yang mengandung unsur menakuti-nakuti. Bila diperhatikan arti asal kosa kata tersebut, maka peringatan yang disampaikan itu merupakan sebagaian kecil serta pendahuluan dari suatu hal yang besar dan berkepanjangan, dan apa yang diperingatkan itu pasti akan terjadi selama syaratnya telah terpenuhi. Syarat tersebut adalah pengabaian kandungan peringatan.
Menurut Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Rasulullah Saw diperintahkan untuk memberikan peringatan, karena peringatan adalah aktivitas paling menonjol didalam risalah. Yaitu memperingatkan terhadap bahaya yang dekat yang senantiasa mengintai orang
yang lalai dan kebingungan dalam kesesatan namun mereka tidak menyadari. Hal itu menunjukan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada manusia karena sekalipun manusia dalam kesesatan dan kelalaian semua itu tidak menambah ataupun mengurangi kekuasaan-Nya.
Qum Faandzir dalam Sistematika Wahyu. Wahyu ini merupakan perintah kepada Rasulullah Saw (pembawa misi Qur’ani) untuk tampil ke gelanggang dakwah. Perintah ini merupakan rangkaian tak terpisahkan dengan wahyu-wahyu sebelumnya, al-‘Alaq, al-Qalam,al-Muzzammil dan wahyu sesudahnya al-Fatihah. Bagi yang menapaktilasi dakwah Rasulullah Saw, hal ini merupakan isyarat bahwa perintah wahyu-wahyu sebelumnya merupakan persiapan dan pembekalan yang mutlak harus diamalkan dan dimiliki nilai-nilainya agar diridhloi Allah Swt.
Tahap-tahap peringatan adalah sebagai berikut :
1) Islahu an-nafsi (memperbaiki diri)
2) Islahu al-baiti (memperbaiki rumah tangga)
3) Irsyad al-mujtama’ (membimbing masyarakat)
4) Tahriru al-balad (berjuang melepaskan negeri dari penjajahan asing)
5) Islahu al-hkumah (memperbaiki pemerintahan yang ada)
6) Iqmatu al-khilafah al-Islamiyah al-‘alamiyah (menegakkan kepemimpinan dunia Islam)
7) Ustadziyat al-‘alam (menjadi guru bagi dunia)
LANJUT!
“Bangunlah, lalu berilah peringatan !”
Secara lughowi qum adalah fiil amar (kata perintah) yang berasal dari akar kata qawama yang berarti bangun, atau bermakna melaksanakan sesuatu secara sempurna dalam berbagi segi. Kemudian andzara berarti : janji, awal sesuatu, penyampaian yang
mengandung unsur menakut-nakuti. Dalam kitab al-Qur’an dan terjemahnya terbitan Departemen Agama Indonesia ayat tersebut diatas diartikan : bangunlah, lalu beri peringatan !
Tafsir Jalalain menanfsirkannya : Takut-takutilah penduduk Makkah dengan neraka, jika mereka tidak beriman.
Tafsir al-Qurthubi menanfsirkannya sebagai berikut :
a) Takut-takutilah penduduk Makkah dan peringatkanlah mereka dengan azab, jika tidak berislam.
b) Umumkan nubuwah risalah, karena sesungguhnya itu merupakan mukaddimahnya.
c) Serulah mereka untuk bertuhid, karena itulah tujuan dakwah.
Tafsir Ibnu Kastir. “Bangunlah, lalu berilah peringatan.” Yaitu, berikanlah peringatan kepada manusia. Dengat ayat ini
jadilah ia seorang rasul, sebagaimana dengan ayat pertama menjadikannya seorang nabi. Penafsirkannya sebagai berikut :
a) Bersiaplah dan peringatkanlah manusia, dan dengan ini misi kerasulan sampai sejak awal nubuwwah.
b) Takut-takutilah penduduk Makkah dengan neraka, jika mereka tidak beriman.
Menurut Tafsir al-Mishbah. Memerintahkan Nabi Muhammad Saw bangkitlah secara bersungguh-sungguh dan dengan penuh semangat
lalu berilah peringatan. Kata qum terambil dari kata qawama yang mempunyaibanyak bentuk. Secara umum, kata-kata yang dibentuk
dari akar kata tersebut diartikan sebagai “melaksanakan sesuatu secara sempurna dalam berbagai seginya.” Karena itu, perintah tersebut menuntut kebangkitan yang sempurna, penuh semangat dan percaya diri, sehingga yang diseru –dalam hal ini adalah Nabi Muhammad Saw- harus membuka selimut, menyingsingkan lengan baju untuk berjuang menghadapi kaum musyrikin.
Kata andzir berasala dari kata nadzara yang mempunyai banyak arti, antara lain sedikit, awal sesuatu dan janji untuk melaksanakan sesuatu bila terpenuhi syaratnya. Pada ayat ini biasa diterjemahkan dengan peringatkanlah. Peringatan
didefinisikan sebagai penyampaian yang mengandung unsur menakuti-nakuti. Bila diperhatikan arti asal kosa kata tersebut, maka peringatan yang disampaikan itu merupakan sebagaian kecil serta pendahuluan dari suatu hal yang besar dan berkepanjangan, dan apa yang diperingatkan itu pasti akan terjadi selama syaratnya telah terpenuhi. Syarat tersebut adalah pengabaian kandungan peringatan.
Menurut Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Rasulullah Saw diperintahkan untuk memberikan peringatan, karena peringatan adalah aktivitas paling menonjol didalam risalah. Yaitu memperingatkan terhadap bahaya yang dekat yang senantiasa mengintai orang
yang lalai dan kebingungan dalam kesesatan namun mereka tidak menyadari. Hal itu menunjukan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada manusia karena sekalipun manusia dalam kesesatan dan kelalaian semua itu tidak menambah ataupun mengurangi kekuasaan-Nya.
Qum Faandzir dalam Sistematika Wahyu. Wahyu ini merupakan perintah kepada Rasulullah Saw (pembawa misi Qur’ani) untuk tampil ke gelanggang dakwah. Perintah ini merupakan rangkaian tak terpisahkan dengan wahyu-wahyu sebelumnya, al-‘Alaq, al-Qalam,al-Muzzammil dan wahyu sesudahnya al-Fatihah. Bagi yang menapaktilasi dakwah Rasulullah Saw, hal ini merupakan isyarat bahwa perintah wahyu-wahyu sebelumnya merupakan persiapan dan pembekalan yang mutlak harus diamalkan dan dimiliki nilai-nilainya agar diridhloi Allah Swt.
Tahap-tahap peringatan adalah sebagai berikut :
1) Islahu an-nafsi (memperbaiki diri)
2) Islahu al-baiti (memperbaiki rumah tangga)
3) Irsyad al-mujtama’ (membimbing masyarakat)
4) Tahriru al-balad (berjuang melepaskan negeri dari penjajahan asing)
5) Islahu al-hkumah (memperbaiki pemerintahan yang ada)
6) Iqmatu al-khilafah al-Islamiyah al-‘alamiyah (menegakkan kepemimpinan dunia Islam)
7) Ustadziyat al-‘alam (menjadi guru bagi dunia)
LANJUT!
Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 1
AYAT 1
“Hai orang yang berkemul (berselimut)”
Menurut Tafsir Ibnu Kastir. Ditegaskan dalam Sahih Bukhari bahwa Jabir berkata, “Surah al-Qur’an pertama kali diturunkan adalah surah ya ayyuhal muddatstir. Namun pendapatnya ini ditentang oleh jumhur ulama. Dan mereka mengatakan, Justru yang pertama kali turun adalah iqra’ bismi rabbikal-ladzi kholaqa.” Jabir r.a berpendapat seperti itu berpegang kepada sebuah hadits yang dia dengar sendiri dari Rasulullah Saw.
“Aku berkhalwat di Gua Hira. Setelah aku selesai, aku pun turun, lalu terdengar seruan kepadaku. Aku melihat ke kanan, namun aku tidak melihat apa-apa. Aku melihat ke kiri, juga tidak melihat apa-apa. Aku melihat kedepan, tetap tidak melihat apa-apa. Dan aku melihat ke belakang, juga tidak melihat apa2. Namun ketika aku melihat ke atas, barulah aku melihat sesuatu. Aku pun segera mendatangi Khadijah dan mengatakan, “ Selimutillah aku dan siramilah aku dengan air yang dingin.” Maka mereka pun menyelimutiku dan menyiramiku dengan air yang dingin. Maka turunlah surah ya ayyuhal muddatstir …. Dan seterusnya” (HR. Imam Bukhari)
Menurut Tafsir al-Mishbah. Hai orang yang berselimut yakni wahai Nabi Muhammad Saw, bagkitlah dengan sempurna dan giat, lalu berilah peringatan mereka yang lengah dan melupakan Allah. Panggilan hai yang berselimut merupakan panggilan rasa kasih sayang serta “kedekatan” Allah kepada pribadi yang diseru. Sebagaimana sahabat Nabi Hudzifah r.a, ketika ditemuai oleh Nabi Muhammad Saw sedang tertidur pada malam peperangan Khandaq, beliau membangunkannya dengan menyerunya Qum ya Nauman (bangunlah wahai si penidur). Demikian juga ketika terjadi kesalahpahaman Ali bin Abi thalib dengan Fatimah r.a, sehingga ‘Ali pergi dari rumah dan tertidur di masjid samapai pakaian dan tubuhnya berlumuran tanah, Nabi memabngunkannya dengan ucapan Qum ya Aba Turab ( bangunlah, wahai yang penuh dengan tanah).Ucapan2 tersebut menggambarkan bahwa pengucapnya tidak marah, bahkan menyayangi dan merasa dekat dengan orang yang diseru.
LANJUT!
“Hai orang yang berkemul (berselimut)”
Menurut Tafsir Ibnu Kastir. Ditegaskan dalam Sahih Bukhari bahwa Jabir berkata, “Surah al-Qur’an pertama kali diturunkan adalah surah ya ayyuhal muddatstir. Namun pendapatnya ini ditentang oleh jumhur ulama. Dan mereka mengatakan, Justru yang pertama kali turun adalah iqra’ bismi rabbikal-ladzi kholaqa.” Jabir r.a berpendapat seperti itu berpegang kepada sebuah hadits yang dia dengar sendiri dari Rasulullah Saw.
“Aku berkhalwat di Gua Hira. Setelah aku selesai, aku pun turun, lalu terdengar seruan kepadaku. Aku melihat ke kanan, namun aku tidak melihat apa-apa. Aku melihat ke kiri, juga tidak melihat apa-apa. Aku melihat kedepan, tetap tidak melihat apa-apa. Dan aku melihat ke belakang, juga tidak melihat apa2. Namun ketika aku melihat ke atas, barulah aku melihat sesuatu. Aku pun segera mendatangi Khadijah dan mengatakan, “ Selimutillah aku dan siramilah aku dengan air yang dingin.” Maka mereka pun menyelimutiku dan menyiramiku dengan air yang dingin. Maka turunlah surah ya ayyuhal muddatstir …. Dan seterusnya” (HR. Imam Bukhari)
Menurut Tafsir al-Mishbah. Hai orang yang berselimut yakni wahai Nabi Muhammad Saw, bagkitlah dengan sempurna dan giat, lalu berilah peringatan mereka yang lengah dan melupakan Allah. Panggilan hai yang berselimut merupakan panggilan rasa kasih sayang serta “kedekatan” Allah kepada pribadi yang diseru. Sebagaimana sahabat Nabi Hudzifah r.a, ketika ditemuai oleh Nabi Muhammad Saw sedang tertidur pada malam peperangan Khandaq, beliau membangunkannya dengan menyerunya Qum ya Nauman (bangunlah wahai si penidur). Demikian juga ketika terjadi kesalahpahaman Ali bin Abi thalib dengan Fatimah r.a, sehingga ‘Ali pergi dari rumah dan tertidur di masjid samapai pakaian dan tubuhnya berlumuran tanah, Nabi memabngunkannya dengan ucapan Qum ya Aba Turab ( bangunlah, wahai yang penuh dengan tanah).Ucapan2 tersebut menggambarkan bahwa pengucapnya tidak marah, bahkan menyayangi dan merasa dekat dengan orang yang diseru.
LANJUT!
Langganan:
Postingan (Atom)